14 Oktober 2026
20261008_063721

MANADO – Kebun kelapa terluas kedua di Indonesia tidak menjamin masa depan industri kelapa Sulawesi Utara aman.

Tantangan datang dari hulu hingga hilir. Lahan menyusut karena alih fungsi, tanaman tua warisan generasi lalu, hingga minimnya regenerasi petani dan pemanjat.

Hal itu ditegaskan Sekjen Apkasi Joune Ganda saat Munas Koalisi Pemerintah Daerah Penghasil Kelapa (Kopek) II 2026 di Hotel Courtyard Manado, Rabu (7/10).

“Minsel dan Minut memang masuk 10 besar areal kelapa terluas nasional. Tapi lahan kita terus tergerus permukiman, industri dan pergudangan,” ujar Bupati Joune Ganda.

Menurut Joune, anak muda enggan jadi pemanjat karena pilihan kerja lain lebih menjanjikan. Harga kopra yang tidak stabil membuat petani malas panen.

“Kalau mampu menghidupi, tidak perlu disuruh, petani pasti akan tanam,” tegasnya.

Ia menekankan peremajaan tanaman, bibit unggul dan kepastian pendapatan harus menjadi fokus. Program petani milenial jangan hanya formalitas kelompok.

Di sisi hilir, Minut punya modal kuat karena dekat Pelabuhan Bitung dan Bandara Sam Ratulangi. Namun hilirisasi harus memberi nilai tambah nyata bagi petani, bukan sekadar tambah pabrik.

“Industri kelapa harus berdampak ekonomi langsung ke petani,” tandas Joune.

(***/V)