Tahuna, SiberSulut : Kecepatan dan ketepatan menjadi penentu utama dalam penanganan dampak bencana alam. Pada Jumat pagi ini, pukul 07.00 WITA,
Kapal Perang Republik Indonesia KRI Selar-879 resmi bertolak dari Dermaga Pelabuhan Nusantara Tahuna menuju Pulau Matutuang, wilayah yang terdampak gempa bumi di Kepulauan Sangihe dan Talaud.
Kapal patroli cepat kelas Selar ini melaju dengan kecepatan maksimal mencapai 27 knot guna memastikan bantuan kemanusiaan tiba tepat waktu.
Perjalanan menuju Pulau Matutuang dilakukan dengan hati-hati mengingat wilayah tersebut memiliki akses yang terbatas dan kondisi laut yang terkadang tidak menentu.
Misi kali ini berlangsung dalam dua tugas utama sekaligus. Selain mengantarkan paket bantuan berupa sembako, air bersih, dan obat-obatan bagi warga yang membutuhkan, KRI Selar-879 juga ditugaskan menjemput jajaran pejabat yang terlibat langsung
dalam penanganan darurat bencana. Rombongan yang diangkut meliputi unsur Forkopimda Kabupaten Kepulauan Sangihe, Komandan Lanal Tahuna, serta Kepala Bidang BPBD Provinsi Sulawesi Utara.
Misi ini dipimpin langsung oleh Komandan KRI Selar-879, Mayor Laut (P) Dian Haris Susilo, S.S.T.Han. Di bawah kepemimpinannya yang dedikatif dan berwibawa, kapal ini menunjukkan performa terbaiknya.
Selama sembilan bulan menjabat, Mayor Laut Dian telah membawa banyak perubahan positif serta keberhasilan dalam berbagai operasi kelautan di wilayah kerja Komando Daerah Armada VIII Manado.
Usai menyelesaikan penyerahan bantuan dan menjemput rombongan pejabat, KRI Selar-879 segera kembali melaju menuju Pelabuhan Nusantara Tahuna. Hal ini dilakukan agar proses evaluasi dan penyusunan langkah pemulihan pasca-bencana dapat segera berjalan.
Mayor Laut Dian Haris Susilo menyampaikan apresiasi setinggi-tingginya kepada seluruh prajurit. “Di tengah tantangan laut dan tekanan waktu, mereka tetap profesional dan penuh empati. Ini wujud nyata TNI AL hadir dan melayani rakyat,” ujarnya.
Ia menambahkan bahwa kehadiran pihaknya tidak hanya terbatas pada bantuan materiil, tetapi juga untuk membangkitkan semangat masyarakat agar segera bangkit.
“Kami akan tetap siaga mendukung seluruh upaya pemulihan infrastruktur dan ekonomi di wilayah Sangihe dan Talaud,” tegasnya.
Dengan selesainya misi ini, tahapan penanganan bencana kini beralih ke fase percepatan rehabilitasi dan rekonstruksi, di mana peran seluruh unsur terkait akan semakin dibutuhkan.






