Kota Bitung, SiberSulut :KRI Selar 879 Selesaikan Operasi Kemanusiaan Di Tiga Pulau Terpencil; Dansatrol Kolonel Laut (P) Marvill Apresiasi Dedikasi Prajurit KRI Selar 879
Kecepatan dan ketepatan terbukti menjadi kunci keberhasilan penanganan dampak bencana alam di wilayah perbatasan.
Pada Jumat pagi hingga sore hari (12/06/2026), Kapal Perang Republik Indonesia (KRI) Selar-879 resmi menyelesaikan misi kemanusiaan pasca-gempa bumi di Kepulauan Sangihe-Talaud.
Kapal patroli cepat kelas Selar ini bertolak dari Pulau Marore dan Matutuang menuju Dermaga Satuan Patroli Bitung, Komando Daerah Armada (Kodaeral) VIII Manado, setelah berhasil menyalurkan bantuan ke tiga pulau terdampak: Kawio, Marore, dan Matutuang.
Dengan menggeber mesin hingga kecepatan maksimal 27 knot, KRI Selar-879 memastikan bantuan logistik tiba tepat waktu di tengah keterbatasan akses dan kondisi laut yang tidak menentu.
Perjalanan pulang-pergi yang penuh tantangan ini dipimpin langsung oleh Komandan KRI (DanKRi) Mayor Laut (P) Dian Haris Susilo, S.S.T.Han., bersama 36 prajurit yang bertugas di atas kapal.
Pada pukul 23.00 WITA, KRI Selar-879 akhirnya merapat dengan selamat di Dermaga Satuan Patroli Bitung. Kedatangan kapal disambut hangat oleh seluruh prajurit Satrol Bitung Kodaeral VIII dalam suasana haru dan bangga, menandai berakhirnya operasi kemanusiaan yang bersejarah ini.
Di bawah komando Mayor Laut Dian Haris Susilo, KRI Selar-879 menunjukkan performa terbaiknya selama sembilan bulan terakhir.
Sejak menjabat sebagai DanKRi, ia telah membawa banyak perubahan positif dalam tata kelola satuan serta mencatatkan sejumlah keberhasilan dalam berbagai operasi kelautan di wilayah kerja Kodaeral VIII Manado. Kepemimpinannya yang berwibawa namun dekat dengan prajurit menjadi motor penggerak utama kesuksesan misi kali ini.
Dalam keterangannya seusai pendaratan, Mayor Laut Dian Haris Susilo menekankan bahwa jabatan pemimpin membawa tanggung jawab yang jauh lebih besar daripada sekadar perintah operasional.
“Sebagai pimpinan, saya memiliki tanggung jawab yang lebih besar bukan hanya untuk menyelesaikan misi, tetapi juga memastikan setiap prajurit pulang dengan selamat dan bangga.
Saya mengapresiasi setinggi-tingginya dedikasi seluruh prajurit KRI Selar-879 yang telah bekerja tanpa kenal lelah dalam pengantaran bantuan kemanusiaan ini. Mereka adalah pahlawan sejati di balik layar,” ujar Mayor Laut Dian Haris Susilo.
Ia berharap, pengalaman berharga dalam misi kemanusiaan ini dapat menjadi modal spiritual dan profesional bagi prajuritnya untuk menghadapi tantangan tugas selanjutnya.
“Harapan kami, sinergi antara TNI AL, pemerintah daerah, dan masyarakat terus terjalin erat. Kami akan selalu siap sedia kapan pun negara membutuhkan,” pungkasnya.
Sementara itu, Pimpinan Redaksi Media Sidik Bhayangkara Indonesia, Harto, turut memberikan apresiasi dan ucapan terima kasih atas peran aktif TNI AL dalam penanganan bencana.
Menurutnya, “Kami mengucapkan terima kasih kepada KRI Selar-879 yang telah memungkinkan kami meliput langsung perjuangan prajurit di lapangan dan Semonga kami, kolaborasi antara TNI dan media dalam menyuarakan isu kemanusiaan dapat terus diperkuat demi membangun kesadaran nasional,” kata Harto.
Terpisah, Komandan Satuan Kapal Patroli (Dansatrol) Bitung Kodaeral VIII juga menyampaikan apresiasi dan ucapan terima kasih kepada seluruh awak KRI Selar-879 serta rekan-rekan media yang telah bersinergi dalam misi kemanusiaan ini.
“Saya mengapresiasi kinerja luar biasa KRI Selar-879 dan dukungan media yang telah memberitakan perjuangan prajurit kita secara objektif. Tanpa pemberitaan yang baik, masyarakat mungkin tidak menyadari betapa beratnya tantangan yang dihadapi anak buah kami di laut.
Harapan kami, momentum ini menjadi bukti nyata bahwa TNI AL hadir untuk rakyat, dan media menjadi jembatan informasi yang memperkuat kepercayaan publik terhadap institusi,” jelas Kolonel Laut (P) Marvill Marfel Frits E.D, S.E., M.Tr.Hanla., CHRMP
Dengan selesainya misi KRI Selar-879, fokus penanganan bencana di Sangihe-Talaud kini bergeser pada tahap rehabilitasi dan rekonstruksi. Namun, jejak pengabdian prajurit TNI AL di perairan utara Sulawesi akan tetap dikenang sebagai simbol kehadiran negara di saat-saat paling sulit bagi warganya.






