Manado, SiberSulut |Di tengah teriknya matahari dan dampak fenomena El Nino yang memicu kekeringan berkepanjangan, jajaran Direktorat Polisi Perairan dan Udara (Ditpolairud) Polda Sulawesi Utara kembali membuktikan komitmen “Polri untuk Masyarakat”.
Usai menyalurkan bantuan di Kepulauan Bunaken, rombongan yang dipimpin Direktur Polairud Kombes Pol Bayuaji Yudha Prajas melanjutkan misi kemanusiaan ke Kepulauan Manado Tua pada Jumat (27/8/2026).
Mengusung tema “Air Untuk Kehidupan: Bukti Nyata Pengabdian dan Ketulusan Polri di Sisi Rakyat”, kegiatan ini menjadi momen bersejarah bagi warga Manado Tua. Pasalnya, Ditpolairud Polda Sulut merupakan instansi pertama yang hadir membawa air bersih secara langsung ke pulau tersebut selama musim kemarau kali ini.
Sesampainya di dermaga Kepulauan Manado Tua, antusiasme warga langsung terlihat jelas.
Ratusan masyarakat berbondong-bondong merapat ke dermaga dengan wadah masing-masing, menunggu giliran menerima air bersih yang dibawa menggunakan KM Amazi 1.
Tidak kenal lelah meski diterpa panas matahari, Kombes Pol Bayuaji Yudha Prajas bersama Wadirpolairud AKBP Denny Tompunuh dan Ketua Bhayangkari Ranting Ny. Nila Bayu turun langsung membantu mengantar air hingga ke rumah-rumah warga.
Sikap rendah hati para pimpinan ini menghapus sekat antara aparat dan rakyat, menciptakan suasana kekeluargaan yang mengharukan.
Dalam keterangannya, Dirpolairud Polda Sulut Kombes Pol Bayuaji Yudha Prajas menjelaskan bahwa aksi ini dilatarbelakangi oleh informasi mendesak mengenai kelangkaan air akibat musim kemarau ekstrem.
“Hari Rabu kemarin kami mendapat informasi bahwa masyarakat di Bunaken dan Manado Tua sangat kekurangan air. Kami segera berkoordinasi dengan sejumlah pengusaha kapal tangkap ikan dan berhasil mendapatkan satu unit kapal yang bersedia membantu.
Total 72.000 liter air bersih kami bawa; sebagian sudah disalurkan di Bunaken karena disana juga ada bantuan dari Pemda, namun untuk Manado Tua ini benar-benar belum ada yang masuk,” ujar Kombes Pol Bayuaji.
Ia menegaskan bahwa kehadiran Polri didasarkan pada prinsip responsibilitas. “Kami melihat sendiri bagaimana warga mengantri dengan sabar. Ke depan, kami akan terus memantau kebutuhan masyarakat dan melaporkan kepada Kapolda Sulut. Kami hadir di mana masyarakat membutuhkan, sekaligus mengantisipasi potensi kebakaran hutan dan lahan akibat cuaca panas ini,” tambahnya.
Sementara itu, Nety Kakalang, seorang warga Kepulauan Manado Tua, mengungkapkan rasa syukurnya karena polisi menjadi pihak pertama yang peduli.
“Kehadiran Polri di Manado Tua sangatlah membantu. Di musim kemarau ini kami sangat kesusahan air, dan kami merasa senang adanya kedatangan Ditpolairud Polda Sulut.
Ini adalah perdana kalinya polisi Polairud yang mengantarkan air di musim kemarau panjang ini. Kami ucapkan terima kasih dan apresiasi setinggi-tingginya,” kata Nety
Nety juga berharap agar kepedulian sosial seperti ini dapat berkelanjutan. Ia mengajak Pemerintah Provinsi Sulawesi Utara dan Pemkot Manado untuk mengikuti jejak Ditpolairud Polda Sulut dalam menangani dampak kemarau di wilayah kepulauan.
“Semoga masyarakat merasakan hadirnya sosok polisi yang baik, dan pemerintah daerah juga bisa hadir di tengah-tengah kami seperti yang telah dibuktikan oleh Ditpolairud Polda Sulut,” pungkasnya.
Dengan berakhirnya penyaluran air di Manado Tua, Ditpolairud Polda Sulut telah memberikan bukti nyata bahwa Polri bukan hanya simbol keamanan, tetapi juga sumber harapan dan kehidupan bagi masyarakat di pelosok Nusantara.






