31 Agustus 2026
FB_IMG_1788182367156

Minahasa Selatan, SiberSulut |Di balik gemerlap pangkat bintang tiga dan jabatan strategis sebagai Asisten Utama Kapolri Bidang Operasi (Astamaops), terdapat sebuah momen sederhana namun sarat makna yang mengingatkan kita tentang esensi kehidupan. Irjen Pol. Dr. Roycke Harry Langie, S.I.K., M.H., baru saja membuktikan bahwa setinggi apa pun seorang anak meraih kesuksesan, rumah pertama di hatinya tetaplah orang tua.

 

Senin (31/8/2026), sesaat setelah menerima penugasan barunya, Irjen Royke memilih pulang kampung ke Desa Pakuweru, Kecamatan Tenga, Kabupaten Minahasa Selatan, Sulawesi Utara. Tujuannya bukan untuk pamer prestasi, melainkan untuk berziarah ke makam kedua orang tuanya tercinta.

 

Suasana khidmat langsung terasa saat rombongan Kapolda tiba di pemakaman keluarga. Sebelum mendekat, Irjen Royke berdiri tegak memberikan penghormatan militer kepada arwah ayah dan ibunya.

Gestur ini menunjukkan rasa hormat tertinggi seorang perwira tinggi tidak hanya kepada negara, tetapi juga kepada leluhur dan orang tua yang telah mendidiknya.

 

Momen paling mengharukan terjadi ketika ia membungkuk dan mencium nisan makam orang tuanya. Air mata tak kuasa terbendung.

Di hadapan tanah tempat orang tuanya beristirahat, seolah semua kebanggaan atas pangkat Jenderal Bintang Tiga menjadi begitu kecil. Yang tersisa hanyalah sosok seorang anak yang mengenang kasih sayang, pengorbanan, dan doa-doa tulus yang pernah mengalir dari kedua insan tersebut.

 

Pangkat boleh bertambah, jabatan boleh semakin tinggi, namun bagi seorang anak, orang tua tetaplah tempat pertama untuk pulang dan bersujud.

 

Kunjungan ziarah ini menjadi pengingat kuat bagi publik bahwa di balik keberhasilan seorang pemimpin Polri, selalu ada peran sentral orang tua yang mungkin tidak pernah terlihat oleh banyak orang. Kasih sayang mereka adalah fondasi, dan doa mereka adalah kekuatan yang mengantarkan sang anak hingga mencapai titik puncak karier.

 

“Pangkat bisa membuat seseorang dihormati oleh masyarakat, tetapi kasih dan doa orang tua-lah yang membuat seseorang mampu sampai di titik itu,” demikian pesan moral yang tersirat dari tindakan Irjen Royke.

 

Kini, ketika sang anak telah berdiri tegap dengan tiga bintang di pundaknya memimpin operasi kepolisian nasional, ia tetap kembali menundukkan kepala di hadapan makam mereka. Sebuah penghormatan sederhana, namun memiliki makna yang jauh lebih dalam daripada seremonial pelantikan manapun.

 

Momen haru Kapolda Sulut di Desa Pakuweru ini mengajarkan kita semua: sejauh apa pun langkah seseorang membawa nama dan jabatan, integritas dan kerendahan hati seorang anak terhadap orang tua adalah mahkota sejati yang tidak akan pernah pudar.