Kota Bitung, SiberSulut :Menyatukan nilai spiritual dan kepedulian terhadap lingkungan menjadi langkah nyata yang digaungkan di Kota Bitung. Kepala Kantor Kementerian Agama Kota Bitung, Hi. Yahya Wahidin Pasiak, S.Ag., M.M., secara resmi membuka dan memberikan materi dalam Workshop Ekoteologi bertajuk “Gerakan Menanam Madrasah Hijau” yang digelar di MTs Negeri 1 Bitung, Rabu 17 Juni 2026
Kegiatan ini bukan sekadar program penghijauan biasa, melainkan terobosan pendidikan yang memandang alam sebagai bagian tak terpisahkan dari ajaran agama.
Melalui pendekatan ini, madrasah ingin menanamkan pemahaman bahwa merawat bumi adalah perwujudan nyata dari keimanan, sejalan dengan semangat rahmatan lil ‘alamin — rahmat bagi seluruh alam semesta.
Dalam sambutannya, Hi. Yahya Wahidin Pasiak menyampaikan apresiasi tinggi atas inisiatif yang diambil pihak madrasah. Menurutnya, di tengah tantangan krisis iklim dan kerusakan lingkungan, menyatukan ajaran agama dan kepedulian ekologi menjadi hal yang sangat relevan.
“Banyak lembaga yang masih memisahkan ilmu agama dan ilmu lingkungan, namun di sini justru dipersatukan. Ini adalah bentuk ijtihad pendidikan yang patut dicontoh,” ujarnya hangat.
Ia menegaskan bahwa menjaga alam adalah tanggung jawab kolektif atau fardhu kifayah. “Jangan sampai gerakan ini hanya berhenti pada seremonial menanam pohon.
Jadikan ini budaya madrasah, lahirkan generasi yang saleh secara ibadah, sekaligus peduli terhadap lingkungan. Ingatlah, merusak alam sama dengan mengkhianati amanah Tuhan kepada kita,” tegasnya.
Sementara itu, Kepala MTs Negeri 1 Bitung, Drs. H. Sudarto Katijo, M.Pd.I., menyampaikan rasa syukur atas dukungan penuh dari Kementerian Agama. Baginya, kegiatan ini menjadi sarana membentuk kepribadian siswa secara utuh.
“Kami ingin siswa tidak hanya belajar teori secara terpisah, tapi merasakan langsung makna merawat ciptaan Tuhan. Kami ingin mencetak generasi yang cerdas otaknya, bersih hatinya, dan peduli terhadap buminya. Madrasah Hebat Bermartabat harus tercermin dari lingkungan yang asri dan perilaku yang ramah alam,” ungkapnya.
Workshop yang diikuti oleh seluruh guru dan perwakilan siswa ini kemudian ditutup dengan aksi nyata penanaman bibit pohon di lingkungan sekolah.
Kolaborasi ini diharapkan dapat menjadi teladan bagi lembaga pendidikan Islam lainnya di Sulawesi Utara dan seluruh Indonesia, mewujudkan pendidikan yang berkelanjutan, religius, dan penuh kepedulian terhadap masa depan bumi.






