Sulut, SiberSulut :Duka menyelimuti perairan Sulawesi Utara pada Rabu sore (01/07/2026). Sebuah insiden kemanusiaan terjadi saat kapal KM Nur Ifah sedang dalam perjalanan pulang dari fishing ground.
Seorang Anak Buah Kapal (ABK) bernama Opler Pandekalu menghembuskan napas terakhirnya akibat sakit darah tinggi pada pukul 14.30 WITA, tepat di sekitar wilayah Batu Kapal, sebelum sempat mendapatkan pertolongan medis di darat.
Merespons informasi tersebut, Kru Kapal Patroli (KP) RIB XV-102 segera bergerak cepat. Pada pukul 15.00 WITA, personel menerima laporan dan langsung melakukan verifikasi di lapangan.
Memasuki pukul 17.30 WITA, KP RIB XV-102 berhasil menjemput KM Nur Ifah dan memastikan kebenaran informasi meninggalnya almarhum.
Tanpa membuang waktu, kru berkoordinasi dengan piket Gakkum, pemilik kapal, serta sejumlah instansi terkait untuk memastikan jenazah dapat dievakuasi dengan layak dan bermartabat ke RS Manembo-Nembo guna pemeriksaan lebih lanjut.
Penanganan musibah ini menjadi bukti nyata kolaborasi yang solid antar-instansi di Bitung. Tidak bekerja sendiri, Crew KP RIB XV-102 menggandeng Anggota Polsek Artembaga, Dinas Sosial, serta Syahbandar Perikanan Bitung.
Bersama-sama, mereka membantu menurunkan jenazah almarhum Opler Pandekalu dari kapal menuju Dermaga Perikanan Bitung dengan penuh hormat dan kehati-hatian.
Kehadiran berbagai elemen ini menegaskan bahwa keselamatan dan martabat manusia di laut adalah tanggung jawab bersama.
Bukan hanya soal penegakan hukum atau patroli keamanan, tetapi juga tentang empati dan pelayanan publik yang menyentuh sisi paling manusiawi dari tugas kepolisian maritim.
Dalam keterangannya, Direktur Polisi Perairan dan Udara (Ditpolairud) Polda Sulawesi Utara, Kombes Pol Bayuaji Yudha Prajas, S.H., M.H., menyampaikan apresiasi setinggi-tingginya atas respons cepat dan penanganan yang humanis oleh seluruh personel yang terlibat.
“Saya mengucapkan terima kasih dan apresiasi sebesar-besarnya kepada personil Ditpolairud Polda Sulut, khususnya Kru KP RIB XV-102, serta rekan-rekan dari Polsek Aertembaga, Dinas Sosial, dan Syahbandar yang telah sigap menangani musibah ini.
Penanganan jenazah dengan penuh hormat dan koordinasi yang cepat mencerminkan nilai-nilai Polri Presisi yang tidak hanya profesional, tetapi juga berempati,” ujar Kombes Pol Bayuaji Yudha Prajas.
Ia menambahkan harapan agar semangat kemanusiaan dan sinergi lintas sektor seperti ini terus dipelihara. “Semoga, setiap personel tetap mengedepankan aspek kemanusiaan dalam setiap tugas di lapangan. Laut bukan hanya area operasi, tapi juga ruang hidup masyarakat nelayan. Kehadiran kita harus selalu membawa rasa aman dan kenyamanan, bahkan dalam momen duka sekalipun,” pungkasnya.
Melalui penanganan musibah KM Nur Ifah ini, Ditpolairud Polda Sulut kembali membuktikan bahwa transformasi kepolisian maritim tidak hanya diukur dari jumlah patroli atau tangkapan pelanggaran, melainkan dari seberapa besar kehadiran institusi dirasakan oleh masyarakat kecil di tengah lautan. Sinergi antara polisi, pemerintah daerah, dan tokoh masyarakat adalah fondasi ketahanan maritim yang sesungguhnya.
Turut berduka cita sedalam-dalamnya atas berpulangnya almarhum Opler Pandekalu. Semoga keluarga yang ditinggalkan diberikan ketabahan, dan semoga sinergi kemanusiaan di perairan Sulawesi Utara ini terus menjadi teladan bagi seluruh jajaran kepolisian maritim di Indonesia.






