SULAWESI UTARA SS – Kasus dugaan Perdagangan Orang (TPPO) lintas provinsi yang menyeret anak di bawah umur berinisial Bunga (nama samaran) kini menjadi sorotan tajam. Namun, di balik isak tangis yang terekam dalam video berdurasi lima detik tersebut, muncul sebuah narasi pembelaan yang seolah mencoba menormalisasi luka dengan nominal rupiah.
Dalam potongan rekaman suara yang beredar, terdengar kontras yang menyayat hati. Di satu sisi, Bunga berulang kali merintih, “Takut, takut, takut,” sebuah ekspresi jujur dari jiwa muda yang merasa terancam. Di sisi lain, terduga pelaku GA dengan nada tenang membujuk korban seolah-olah trauma bisa diredam hanya dengan jaminan kerahasiaan: “Santai saja, kan hanya mama GA yang tahu.”
Kritik publik pun mencuat; sejak kapan ketakutan seorang anak di bawah umur bisa dianggap sebagai sesuatu yang bisa “disantaikan”? Kehadiran sosok pria yang diduga Pejabat Daerah di Papua Pegunungan berinisial (YK) semakin menambah daftar panjang pertanyaan mengenai perlindungan anak di negeri ini.
Pembelaan GA kepada media pada Jumat (8/1/2026) seolah membuka tabir cara pandang pelaku terhadap nilai kemanusiaan. GA berdalih bahwa orang tua korban telah menerima uang sebesar Rp7 juta dan menekankan bahwa korban “tidak disetubuhi.”
Namun, pernyataan ini justru memancing kritik halus mengenai standar moralitas:
- Pertama, apakah uang Rp7 juta kini menjadi lisensi sah untuk memindahkan manusia antar-provinsi di luar kehendaknya?
- Kedua, apakah definisi “kerusakan” pada anak hanya diukur dari terjadi atau tidaknya persetubuhan, sementara trauma psikologis dan eksploitasi dianggap sebagai angin lalu?
Ketua DPP Tipikor PHRI Sulut, Jefran De Jong alias Boets, telah mengambil sikap tegas untuk membawa kasus ini ke Polda Sulut hingga Mabes Polri. Bukti video dan voice note yang dikantongi menjadi harapan bagi publik agar kasus ini tidak berakhir “damai” di bawah meja.
Kasus ini bukan sekadar angka atau transaksi rupiah. Ini adalah ujian bagi nurani hukum kita: Apakah suara tangis seorang anak akan kalah nyaring dengan alasan “sudah ambil uang”?
Dunia menunggu, apakah keadilan bisa dibeli dengan harga tujuh juta, ataukah hukum masih memiliki harga diri untuk melindungi mereka yang tak berdaya.






